Umar bin Khattab ra terkenal sebagai orang yang berwatak keras dan
bertubuh tegap. Sering kali pada awalnya (sebelum masuk Islam) kaum
muslimin mendapatkan perlakukan kasar darinya. Sebenarnya di dalam hati
Umar sering berkecamuk perasaan-perasaan yang berlawanan, antara
pengagungannya terhadap ajaran nenek moyang, kesenangan terhadap hiburan
dan mabuk-mabukan dengan kekagumannya terhadap ketabahan kaum muslimin
serta bisikan hatinya bahwa boleh jadi apa yang dibawa oleh Islam itu
lebih mulia dan lebih baik.
Sampailah kemudian suatu hari, beliau berjalan dengan pedang terhunus
untuk segera menghabisi Rasulullah SAW. Namun di tengah jalan, beliau
dihadang oleh Abdullah an-Nahham al-‘Adawi seraya bertanya:
“Hendak kemana engkau ya Umar ?”,
“Aku hendak membunuh Muhammad”, jawabnya.
“Apakah engkau akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhroh jika engkau membunuh Muhammad ?”,
“Jangan-jangan engkau sudah murtad dan meninggalkan agama asal-mu?”. Tanya Umar.
“Maukah engkau ku tunjukkan yang lebih mengagetkan dari itu wahai Umar,
sesungguhnya saudara perempuanmu dan iparmu telah murtad dan telah
meninggalkan agamamu”, kata Abdullah.
Setelah mendengar hal tersebut, Umar langsung menuju ke rumah
adiknya. Saat itu di dalam rumah tersebut terdapat Khabbab bin Art yang
sedang mengajarkan al-Quran kepada keduanya (Fatimah, saudara perempuan
Umar dan suaminya). Namun ketika Khabbab merasakan kedatangan Umar, dia
segera bersembunyi di balik rumah. Sementara Fatimah, segera menutupi
lembaran al-Quran.
Sebelum masuk rumah, rupanya Umar telah mendengar bacaan Khabbab, lalu dia bertanya :
“Suara apakah yang tadi saya dengar dari kalian?”,
“Tidak ada suara apa-apa kecuali obrolan kami berdua saja”, jawab mereka
“Pasti kalian telah murtad”, kata Umar dengan geram
“Wahai Umar, bagaimana pendapatmu jika kebenaran bukan berada pada agamamu ?”, jawab ipar Umar.
Mendengar jawaban tersebut, Umar langsung menendangnya dengan keras
hingga jatuh dan berdarah. Fatimah segera memba-ngunkan suaminya yang
berlumuran darah, namun Fatimah pun ditampar dengan keras hingga
wajahnya berdarah, maka berkata-lah Fatimah kepada Umar dengan penuh
amarah:
“Wahai Umar, jika kebenaran bukan terdapat pada agamamu, maka aku
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan
aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah”
Melihat keadaan saudara perempuannya dalam keadaan ber-darah, timbul
penyesalan dan rasa malu di hati Umar.
Maafkan saya bila ada salah kata dan serba kekurangan...saya hanya manusia yang tidak lepas dari kesalahan dan bila ada kebenaran pada blog ini itu datangnya hanya dari Allah SWT.....mudah-mudahan blog ini bisa sedikit membantu mendapatkan apa yang anda cari
Kamis, 21 November 2013
Kamis, 10 Oktober 2013
kisah Husein bin Ali bin Abi thalib
Tulisan berikut ini
diterjemahkan dari tulisan dan sebagian ceramah Syaikh Utsman al-Khomis,
seorang ulama yang terkenal sebagai pakar dalam pembahasan Syiah-. [kisahmuslim.com]
Pembahasan tentang terbunuhnya cucu Rasulullalllah, asy-syahid Husein bin Ali ‘alaihissalam
telah banyak ditulis, namun beberapa orang ikhwan meminta saya agar
menulis sebuah kisah shahih yang benar-benar bersumber dari para ahli
sejarah. Maka saya pun menulis ringkasan kisah tersebut sebagai berikut –sebelumnya Syaikh telah menulis secara rinci tentang kisah terbunuhnya Husein di buku beliau Huqbah min at-Tarikh-.
Pada tahun 60 H, ketika Muawiyah bin Abu
Sufyan wafat, penduduk Irak mendengar kabar bahwa Husein bin Ali belum
berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah, maka orang-orang Irak mengirimkan
utusan kepada Husein yang membawakan baiat mereka secara tertulis
kepadanya. Penduduk Irak tidak ingin kalau Yazid bin Muawiyah yang
menjadi khalifah, bahkan mereka tidak menginginkan Muawiyah, Utsman,
Umar, dan Abu Bakar menjadi khalifah, yang mereka inginkan adalah Ali
dan anak keturunannya menjadi pemimpin umat Islam. Melalui utusan
tersebut sampailah 500 pucuk surat lebih yang menyatakan akan membaiat
Husein sebagai khalifah.
Setelah surat itu sampai di Mekah, Husein
tidak terburu-buru membenarkan isi surat itu. Ia mengirimkan sepupunya,
Muslim bin Aqil, untuk meneliti kebenaran kabar baiat ini. Sesampainya
Muslim di Kufah, ia menyaksikan banyak orang yang sangat menginginkan
Husein menjadi khalifah. Lalu mereka membaiat Husein melalui perantara
Muslim bin Aqil. Baiat itu terjadi di kediaman Hani’ bin Urwah.
Kabar ini akhirnya sampai ke telinga Yazid bin Muawiyah di ibu kota kekhalifahan, Syam, lalu ia mengutus Ubaidullah bin Ziyad
menuju Kufah untuk mencegah Husein masuk ke Irak dan meredam
pemberontakan penduduk Kufah terhadap otoritas kekhalifahan. Saat
Ubaidullah bin Ziyad tiba di Kufah, masalah ini sudah sangat memanas. Ia
terus menanyakan perihal ini hingga akhirnya ia mengetahui bahwa
kediaman Hani’ bin Urwah adalah sebagai tempat berlangsungnya pembaiatan
dan di situ juga Muslim bin Aqil tinggal.
Ubaidullah menemui Hani’ bin Urwah dan
menanyakannya tentang gejolak di Kufah. Ubaidullah ingin mendengar
sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah walaupun sebenarnya ia
sudah tahu tentang segala kabar yang beredar. Dengan berani dan penuh
tanggung jawab terhadap keluarga Nabi (Muslim bin Aqil adalah keponakan
Nabi), Hani’ bin Urwah mengatakan, “Demi Allah, sekiranya (Muslim bin
Aqil) bersembunyi di kedua telapak kakiku ini, aku tidak akan
memberitahukannya kepadamu!” Ubaidullah lantas memukulnya dan
memerintahkan agar ia ditahan.
Selasa, 05 Februari 2013
Tata cara shalat dalam perjalanan
Dalam bepergian,
ada beberapa keringanan (rukhsah) dalam beribadah yang diberikan oleh
agama kita untuk meringankan dan memudahkan pelaksanaannya. Salah satu
keringanan tersebut adalah pelaksanan ibadah sholat dengan cara qashar
(dipendekkan) dan dengan cara jamak (menggabung dua sholat dalam satau
waktu). Dengan demikian pelaksanaan sholat dalam perjalanan, atau
disebut "sholatus safar", dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai
berikut :
1. Itmam, atau sempurna yaitu dilakukan seperti biasanya saat dirumah.
2. Qashar, yaitu sholat yang semestinya empat rakaat diringkas atau dipendekkan menjadi dua roka'at.
3. Jama', yaitu mengumpulkan dua sholat, Dhuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan Isya', dalam salah satu waktunya.
SEMPURNA ATAU QASHAR?
Para
ulama berbeda pendapat mengenai manakah yang lebih utama dalam
melaksanakan sholat saat bepergian, apakah dengan sempurnya seperti
biasa ataukah dengan qashar.
[1].
Pendapat pertama mengatakan qashar shalat saat bepergian hukumnya
wajib. Pendapat ini diikuti mazhab Hanafiyah, Shaukani, Ibnu Hazm dan
dari ulama kontemporer Albani. Bahkan
Hamad bin Abi Sulaiman mengatakan barangsiapa melakukan sholat 4 rakaat
saat bepergian, maka ia harus mengulanginya. Imam Malik juga
diriwayatkan mengatakan mereka yang tidak melakukan qashar harus
mengulangi sholatnya selama masih dalam waktu sholat tersebut.
Pendapat
ini menyandar kepada dalil hadist riwayat Aisyah r.a. berkata:"Pada
saat pertama kali diwajibkan shalat adalah dua rakaat, kemudian itu
ditetapkan pada shalat bepergian, dan untuk sholat biasa disempurnakan"
(Bukhari Muslim). Dalil ini juga diperkuat oleh riwayat Ibnu Umar r.a.
beliau berkata:"Aku menemani Rasulullah s.a.w. dalam bepergian, beliau
tidak pernah sholat lebih dari dua rakaat sampai beliau dipanggil Allah" (Bukhari Muslim).
Dalil
lain dari pendapat ini adalah riwayat Ibnu Abbas r.a. juga pernah
berkata:"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan sholat melalui lisan Nabi
kalian s.a.w. bahwa untuk orang bepergian dua rakaat, untuk orang yang
menetap empat rakaat dan dalam keadaan ketakutan satu rakaat."(H.R.
Muslim).
[2].Pendapat kedua mengatakan bahwa melakukan sholat dengan cara qashar
saat bepergian hukumnya sunnah. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Syafii
dan Hanbali dan mayoritas ulama berbagai mazhab.
Kamis, 03 Januari 2013
Kisah Umar bin Khattab RA
Ini adalah sebuah penggalanisi buku Al Bidayah wan Nihayah Masa
Khulafaur Rasyidin, yang akan menukilkan beberapa kisah, perkataan dan
tindak-tanduk Umar bin Khaththab sebagai seorang khalifah atau Amirul
Mukminin (pemimpin umat Islam) ketika itu yang penuh hikmah. Tulisan ini
sangat menggugah perasan yang membaca, tentang bagaimana seorang
pemimpin yang sangat takut pada Allah, hidup sangat bersahaja, berhati
lembut terhadap umatnya,dan memegang teguh amanah kepemimpinannya dengan
sangat luar biasa.
Umar pernah berkata, Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.
Jika menugaskan para gubernurnya, Umar akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.
Jika seseorang berbicara kepadanya menyampaikan berita, dan ia berbohong dalam sepatah atau dua patah kalimat, maka Umar akan segera menegurnya dan berkata, Tutup mulutmu, tutup mulutmu! Maka lelaki yang berbicara kepadanya berkata, Demi Allah sesungguhnya berita yang aku sampaikan kepadamu adalah benar kecuali apa yang engkau perintahkan aku untuk menutup mulut.
Muawiyah bin Abi Sufyan berkata,Adapun Abu Bakar, ia tidak sedikitpun menginginkan dunia dan dunia juga tidak datang menghampirinya. Sedangkan Umar, dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia.
Pernah Umar dicela dan dikatakan kepadanya, Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran. Maka Umar berkata, Sesungguhnya aku telah ditinggalkan kedua sahabatku (yakni Rasulullah dan Abu Bakar) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia), maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka.
Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya, sementara beliau adalah khalifah, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji ataupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang.
Umar pernah berkata, Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.
Jika menugaskan para gubernurnya, Umar akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.
Jika seseorang berbicara kepadanya menyampaikan berita, dan ia berbohong dalam sepatah atau dua patah kalimat, maka Umar akan segera menegurnya dan berkata, Tutup mulutmu, tutup mulutmu! Maka lelaki yang berbicara kepadanya berkata, Demi Allah sesungguhnya berita yang aku sampaikan kepadamu adalah benar kecuali apa yang engkau perintahkan aku untuk menutup mulut.
Muawiyah bin Abi Sufyan berkata,Adapun Abu Bakar, ia tidak sedikitpun menginginkan dunia dan dunia juga tidak datang menghampirinya. Sedangkan Umar, dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia.
Pernah Umar dicela dan dikatakan kepadanya, Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran. Maka Umar berkata, Sesungguhnya aku telah ditinggalkan kedua sahabatku (yakni Rasulullah dan Abu Bakar) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia), maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka.
Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya, sementara beliau adalah khalifah, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji ataupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang.
Jumat, 21 Desember 2012
Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq (2)
Abu Bakar Ash Shiddiq lahir di Mekah dari
keturunan Bani Tamim (Attamimi), sub-suku bangsa Quraisy ( Beberapa sejarawan
Islam mencatat ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi,
seorang yang terpelajar, serta dipercaya sebagai orang yang bisa menafsirkan
mimpi) pada 572 - wafat: 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H,beliau termasuk
di antara mereka yang paling awal memeluk Islam. Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu
Bakar menjadi kalifaf Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 M.
Lahir dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah, ia adalah satu di antara
empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang
diberi petunjuk.
Abu Bakar Ash-Shidiq Nama lengkapnya adalah 'Abd
Allah ibn 'Utsman bin Amir bi Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin
Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr al-Quraishi at-Tamimi'. Bertemu nasabnya
dengan nabi SAW pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai. Dan ibu dari abu
Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin
Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah bani Taim
Abu Bakar adalah ayah dari Aisyah, istri Rasulullah
SAW. Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang
kemudian diubah oleh Rasulullah SAW menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'). Rasulullah
SAW memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya 'yang berkata benar') setelah Abu
Bakar membenarkan peristiwa Isra Miraj yang diceritakan oleh Rasulullah SAW
kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama "Abu Bakar
ash-Shiddiq"
Kisah ketika beliau anak-anak, masih muda dan
sikap beliau tentang kisah isra dapat dibaca disini
Usaha mencegah gangguan Quraisy
Kalaupun buku-buku sejarah dan mereka yang
menulis biografi Abu Bakar tidak menyebutkan usahanya, apa yang disebutkan
itu sudah memadai juga. Tetapi sungguhpun begitu dalam hati saya terbayang
jelas segala perhatiannya itu, serta hubungannya yang terus-menerus
dengan Hamzah, dengan Umar, dengan Usman serta dengan pemukapemuka
Muslimin yang lain untuk melindungi golongan lemah yang sudah masuk Islam
dari gangguan Quraisy. Bahkan saya membayangkan hubungannya dulu dengan
kalangan luar Islam, dengan mereka yang tetap berpegang pada kepercayaan
mereka, tetapi berpendapat bahwa Quraisy tidak berhak memusuhi orang
yang tidak sejalan dengan kepercayaan mereka dalam menyembah
berhala-berhala itu.
Dalam sejarah hidup Rasulullah kita sudah
melihat, di antara mereka banyak juga yang membela kaum Muslimin dari
gangguan Quraisy itu. Juga kita melihat mereka yang telah bertindak
membatalkan piagam pemboikotan tatkala orang-orang Quraisy sepakat hendak
memboikot Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya serta memblokade mereka
selama tiga tahun terus-menerus di celah-celah gunung di pinggiran kota
Mekah, supaya tak dapat berhubungan dan berbicara dengan orang di luar
selain pada bulan-bulan suci. Saya yakin, bahwa Abu Bakar, dalam
menggerakkan mereka yang bukan pengikut-pengikut agama Rasulullah
SAW, namun turut marah melihat tindakan-tindakan Quraisy terhadapnya itu, punya
pengaruh besar, karena sifatnya yang lemah lembut, tutur katanya yang ramah serta
pergaulannya yang menarik. Tindakan Abu Bakar dalam melindungi kaum
Muslimin ketika agama ini baru tumbuh, itu pula yang menyebabkan Rasulullah
SAW lebih dekat kepadanya. Inilah yang telah mempertalikan kedua orang
itu dengan tali persaudaraan dalam iman, sehingga Rasulullah SAW
memilihnya sebagai teman dekatnya (khalilnya).
Setelah dengan izin Allah agama ini mendapat
kemenangan dengan kekuatan penduduk Yasrib (Medinah) sesudah kedua
ikrar Aqabah, Rasulullah SAW pun mengizinkan sahabat-sahabatnya hijrah
ke kota itu. Sama halnya dengan sebelum itu, ia mengizinkan
sahabat-sahabatnya hijrah ke Abisinia. Orang-orang Quraisy tidak tahu, Rasulullah
SAW ikut hijrah atau tetap tinggal di Mekah seperti tatkala kaum Muslimin
dulu hijrah ke Abisinia.
Tahukah Abu Bakar maksud Rasulullah SAW, yang
oleh Quraisy tidak diketahui? Segala yang disebutkan mengenai ini hanyalah,
bahwa Abu Bakar meminta izin kepada Rasulullah SAW akan pergi hijrah,
dan dijawab: "Jangan tergesa-gesa, kalau-kalau Allah nanti
memberikan seorang teman kepadamu." Dan tidak lebih dari itu.
Bersiap-siap, kemudian hijrah
Di sini dimulai lagi sebuah lembaran baru,
lembaran iman yang begitu kuat kepada Allah dan kepada Rasulullah. Abu Bakar
sudah mengetahui benar, bahwa sejak kaum Muslimin hijrah ke Yasrib,
pihak Quraisy memaksa mereka yang dapat dikembalikan ke Mekah harus
dikembalikan, dipaksa meninggalkan agama itu. Kemudian mereka disiksa,
dianiaya. Juga ia mengetahui, bahwa orang-orang musyrik itu berkumpul di
DarunNadwah, berkomplot hendak membunuh Rasulullah SAW. Kalau ia menemani
Rasulullah SAW dalam hijrahnya itu lalu Quraisy bertindak membunuh Rasulullah
SAW, tidak bisa tidak Abu Bakar juga pasti dibunuhnya. Sungguhpun
begitu, ketika ia oleh Rasulullah SAW diminta menunda, ia pun tidak
ragu. Bahkan ia merasa sangat gembira, dan yakin benar ia bahwa kalau
ia hijrah bersama Rasulullah, Allah akan memberikan pahala dan ini
suatu kebanggaan yang tiada taranya. Kalau sampai ia mati terbunuh
bersama dia, itu adalah mati syahid yang akan mendapat surga.
Sejak itu Abu Bakar sudah menyiapkan dua ekor
unta sambil menunggu perkembangan lebih lanjut bersama kawannya itu.
Sementara sore itu ia di rumah tiba-tiba datang Rasulullah SAW seperti
biasa tiap sore. Ia memberitahukan bahwa Allah telah mengizinkan ia
hijrah ke Yasrib. Abu Bakar menyampaikan keinginannya kepada Rasulullah
sekiranya dapat menemaninya dalam hijrahnya itu; dan permintaannya itu pun
dikabulkan.
Khawatir Rasulullah SAW akan melarikan diri
sesudah kembali ke rumahnya, pemuda-pemuda Quraisy segera mengepungnya. Rasulullah
SAW membisikkan kepada Ali bin Abi Talib supaya ia mengenakan mantel
Hadramautnya yang hijau dan berbaring di tempat tidurnya. Hal itu
dilakukan oleh Ali. Lewat tengah malam, dengan tidak setahu pemudapemuda Quraisy
ia keluar pergi ke rumah Abu Bakar. Ternyata Abu Bakar memang sedang jaga
menunggunya. Kedua orang itu kemudian keluar dari celah pintu belakang
dan bertolak ke arah selatan menuju Gua Saur. Di dalam gua itulah mereka
bersembunyi. Pemuda-pemuda Quraisy itu segera bergegas ke setiap lembah
dan gunung mencari Rasulullah SAW untuk dibunuh. Sampai di Gua Saur salah
seorang dari mereka naik ke atas gua itu kalau-kalau dapat menemukan
jejaknya. Saat itu Abu Bakar sudah mandi keringat ketika terdengar suara
mereka memanggil-manggil. Ia menahan nafas, tidak bergerak dan hanya
menyerahkan nasib kepada Allah. Tetapi Rasulullah SAW masih tetap
berzikir dan berdoa kepada Allah. Abu Bakar makin merapatkan diri ke
dekat kawannya itu, dan Rasulullah SAW berbisik di telinganya:
Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq (1)
Abu Bakar Ash Shiddiq lahir di Mekah dari
keturunan Bani Tamim (Attamimi), sub-suku bangsa Quraisy ( Beberapa sejarawan
Islam mencatat ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi,
seorang yang terpelajar, serta dipercaya sebagai orang yang bisa menafsirkan
mimpi) pada 572 - wafat: 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H,beliau termasuk
di antara mereka yang paling awal memeluk Islam. Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu
Bakar menjadi kalifaf Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 M.
Lahir dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah, ia adalah satu di antara
empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang
diberi petunjuk.
Abu Bakar Ash-Shidiq Nama lengkapnya adalah 'Abd
Allah ibn 'Utsman bin Amir bi Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin
Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr al-Quraishi at-Tamimi'. Bertemu nasabnya
dengan nabi SAW pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai. Dan ibu dari abu
Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin
Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah bani Taim
Abu Bakar adalah ayah dari Aisyah, istri Rasulullah
SAW. Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang
kemudian diubah oleh Rasulullah SAW menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'). Rasulullah
SAW memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya 'yang berkata benar') setelah Abu
Bakar membenarkan peristiwa Isra Miraj yang diceritakan oleh Rasulullah SAW
kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama "Abu Bakar
ash-Shiddiq"
Masa mudanya
Semasa kecil Abu Bakar hidup seperti umumnya
anak-anak di Mekah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja ia
bekerja sebagai pedagang pakaian. Usahanya ini mendapat sukses. Dalam
usia muda itu ia kawin dengan Qutailah bint Abdul Uzza. Dari perkawinan
ini lahir Abdullah dan Asma'. Asma' inilah yang kemudian dijuluki
Zatun-Nitaqain. Sesudah dengan Qutailah ia kawin lagi dengan Umm
Rauman bint Amir bin Uwaimir. Dari perkawinan ini lahir pula Abdur-Rahman
dan Aisyah. Kemudian di Medinah ia kawin dengan Habibah bint Kharijah,
setelah itu dengan Asma' bint Umais yang melahirkan Rasulullah SAW.
Sementara itu usaha dagangnya berkembang pesat dan dengan sendirinya ia
memperoleh laba yang cukup besar.
Perawakan dan perangainya
Keberhasilannya dalam perdagangan itu mungkin
saja disebabkan oleh pribadi dan wataknya. Berperawakan kurus, putih, dengan
sepasang bahu yang kecil dan muka lancip dengan
mata yang cekung disertai dahi yang agak menonjol dan urat-urat tangan yang
tampak jelas — begitulah dilukiskan oleh putrinya, Aisyah Ummulmukminin. Begitu
damai perangainya, sangat lemah lembut dan sikapnya tenang sekali. Tak mudah ia
terdorong oleh hawa nafsu. Dibawa oleh sikapnya yang selalu tenang,
pandangannya yang jernih serta pikiran yang tajam, banyak kepercayaan dan
kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang tidak diikutinya. Aisyah
menyebutkan bahwa ia tak pernah minum minuman keras, di zaman jahiliah
atau Islam, meskipun penduduk Mekah umumnya sudah begitu hanyut ke dalam
khamar dan mabuk-mabukan. Ia seorang ahli genealogi — ahli silsilah — bicaranya
sedap dan pandai bergaul.
Seperti dilukiskan oleh Ibn Hisyam, penulis kitab
Sirah:
"Abu Bakar adalah laki-laki yang akrab di
kalangan masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Ia dari
keluarga Quraisy yang paling dekat dan paling banyak mengetahui
seluk-beluk kabilah itu, yang baik dan yang jahat. Ia seorang pedagang
dengan perangai yang sudah cukup terkenal. Karena suatu masalah,
pemuka-pemuka masyarakatnya sering datang menemuinya, mungkin karena
pengetahuannya, karena perdagangannya atau mungkin juga karena cara bergaulnya
yang enak."
Kecintaannya pada Mekah dan hubungannya
dengan Rasulullah SAW
Ia tinggal di Mekah, di kampung yang sama dengan
Khadijah bint Khuwailid, tempat saudagar-saudagar terkemuka yang
membawa perdagangan dalam perjalanan musim dingin dan musim panas
ke Syam1 dan ke Yaman. Karena bertempat tinggal di kampung itu,
itulah yang membuat hubungannya dengan Rasulullah SAW begitu akrab
setelah Rasulullah SAW nikah dengan Khadijah dan kemudian tinggal
serumah. Hanya dua tahun beberapa bulan saja Abu Bakar lebih muda dari Rasulullah
SAW. Besar sekali kemungkinannya, usia yang tidak berjauhan itu,
persamaan bidang usaha serta ketenangan jiwa dan perangainya, di samping
ketidaksenangannya pada kebiasaan-kebiasaan Quraisy — dalam
kepercayaan dan adat — mungkin sekali itulah semua yang berpengaruh dalam
persahabatan Rasulullah SAW dengan Abu Bakar. Beberapa sumber berbeda
pendapat, sampai berapa jauh eratnya persahabatan itu sebelum Rasulullah
SAW menjadi Rasul. Di antara mereka ada yang menyebutkan bahwa
persahabatan itu sudah begitu akrab sejak sebelum kerasulan, dan bahwa
keakraban itu pula yang membuat Abu Bakar cepat-cepat menerima Islam.
Ada pula yang lain menyebutkan, bahwa akrabnya
hubungan itu baru kemudian dan bahwa keakraban pertama itu tidak lebih hanya
karena bertetangga dan adanya kecenderungan yang sama. Mereka yang mendukung
pendapat ini barangkali karena kecenderungan Rasulullah SAW yang suka
menyendiri dan selama bertahun-tahun sebelum kerasulannya menjauhi orang
banyak. Setelah Allah mengangkatnya sebagai Rasul teringat ia pada Abu Bakar
dan kecerdasan otaknya. Lalu diajaknya ia bicara dan diajaknya menganut ajaran
tauhid. Tanpa ragu Abu Bakar pun menerima ajakan itu. Sejak itu terjadilah
hubungan yang lebih akrab antara kedua orang itu. Kemudian keimanan Abu Bakar
makin mendalam dan kepercayaannya kepada Rasulullah SAW dan risalahnya pun
bertambah kuat. Seperti dikatakan oleh Aisyah: "Yang kuketahui kedua
orangtuaku sudah memeluk agama ini, dan setiap kali lewat di depan rumah
kami, Rasulullah selalu singgah ke tempat kami, pagi atau
sore."Jumat, 14 Desember 2012
Akhir Sedih Khalid bin Walid
Khalid bin Walid, jenderal perang Islam berjuluk "Saifullah Al-Maslul
(pedang Allah yang terhunus)". Reputasinya sebagai seorang jenderal
ditakuti dan dikagumi lawan-lawannya. Namun selain kehebatannya sebagai
seorang panglima perang, kaum muslimin juga banyak membicarakan
hubungannya yang buruk dengan Umar bin Khattab. Krisis kepercayaan
dengan sang sepupu berakhir dengan diberhentikannya Khalid Bin Walid
dari kemiliteran, hal yang membuat hatinya menjadi galau.
"Aku berjuang dalam banyak pertempuran mencari mati syahid, tidak ada tempat di tubuhku melainkan memiliki bekas luka tusuk tombak, pedang atau belati, namun inilah aku, mati di tempat tidur seperti unta tua mati. Semoga mata para pengecut tidak pernah tidur." - Khalid bin Walid menjelang kematiannya.
Inilah Biografi Khalid Bin Walid - Pedang Allah
Khalid bin Walid (592–642), lahir sekitar tahun 592, ayahnya bernama Walid bin al-Mughira seorang kepala suku dari banu Makhzum (bangsa Quraisy). Di saat itu banu Makhzum bertanggung jawab terhadap masalah perang, mengurus persenjataan dan tenaga tempur. Sesaat setelah dilahirkan, Khalid dikirim ke suku Badui di gurun di mana udaranya masih bersih, segar dan belum terpolusi. di usia lima atau 6 tahun, ia kembali ke Mekah. Di masa kanak-kanak tersebut Khalid juga pernah terserang cacar ringan yang mengakibatkan timbulnya bekas cacar (bopeng) dipipi kirinya.
Khalid bin Walid dan Umar bin Khattab adalah saudara sepupu dan memiliki
kemiripan wajah. Keduanya sangat tinggi, Khalid memiliki tubuh yang
kuat, bahu yang lebar, badan yang kekar juga berjenggot penuh dan tebal
di wajahnya.
Khalid seorang juara gulat, suatu ketika ia pernah adu gulat dengan Umar
bin Khattab. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Ini mungkin awal dari
perseteruan dua saudara sepupu tersebut. Khalid juga jago berkuda,
dimasa kecil ia juga berlatih menggunakan senjata seperti panah, tombak,
dan pedang. Tombak adalah senjata favoritnya.
Di Era Nabi Muhammad saw (610–632)
Pertempuran Melawan Kaum Muslimin
Tidak banyak diketahui kisah Khalid bin Walid di masa-masa awal nabi Muhammad saw. Ayah Khalid dikenal memusuhi Islam. Setelah periode hijrah dari Mekah ke Madinah, maka pertempuran antara kaum muslimin dgn kaum kafir quraisy pun dimulai. Khalid bin Walid tidak turut serta dalam perang Badar, peperangan pertama antara kaum muslimin dengan kafir quraisy. Dalam perang ini saudara Khalid, Walid bin Walid tertangkap dan ditawan. Kemudian Khalid bersama sang kakak pergi ke Madinah untuk menembus Walid. Namun segera setelah ditembus, dalam perjalanan ke Mekah, Walid melarikan diri, kembali ke Madinah dan masuk Islam.
![]() |
| Khalid menyerang balik pasukan muslimin |
Langganan:
Postingan (Atom)
