Selasa, 05 Februari 2013

Tata cara shalat dalam perjalanan

Dalam bepergian, ada beberapa keringanan (rukhsah) dalam beribadah yang diberikan oleh agama kita untuk meringankan dan memudahkan pelaksanaannya. Salah satu keringanan tersebut adalah pelaksanan ibadah sholat dengan cara qashar (dipendekkan) dan dengan cara jamak (menggabung dua sholat dalam satau waktu). Dengan demikian pelaksanaan sholat dalam perjalanan, atau disebut "sholatus safar", dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
1. Itmam, atau sempurna yaitu dilakukan seperti biasanya saat dirumah.
2. Qashar, yaitu sholat yang semestinya empat rakaat diringkas atau dipendekkan  menjadi dua roka'at.
3. Jama', yaitu mengumpulkan dua sholat, Dhuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan Isya', dalam salah satu waktunya.
SEMPURNA ATAU QASHAR?
Para ulama berbeda pendapat mengenai manakah yang lebih utama dalam melaksanakan sholat saat bepergian, apakah dengan sempurnya seperti biasa ataukah dengan qashar.
[1]. Pendapat pertama mengatakan qashar shalat saat bepergian hukumnya wajib. Pendapat ini diikuti mazhab Hanafiyah, Shaukani, Ibnu Hazm dan dari ulama kontemporer Albani. Bahkan Hamad bin Abi Sulaiman mengatakan barangsiapa melakukan sholat 4 rakaat saat bepergian, maka ia harus mengulanginya. Imam Malik juga diriwayatkan mengatakan mereka yang tidak melakukan qashar harus mengulangi sholatnya selama masih dalam waktu sholat tersebut.

Pendapat ini menyandar kepada dalil hadist riwayat Aisyah r.a. berkata:"Pada saat pertama kali diwajibkan shalat adalah dua rakaat, kemudian itu ditetapkan pada shalat bepergian, dan untuk sholat biasa disempurnakan" (Bukhari Muslim). Dalil ini juga diperkuat oleh riwayat Ibnu Umar r.a. beliau berkata:"Aku menemani Rasulullah s.a.w. dalam bepergian, beliau tidak pernah sholat lebih dari dua rakaat sampai beliau dipanggil Allah" (Bukhari Muslim).
Dalil lain dari pendapat ini adalah riwayat Ibnu Abbas r.a. juga pernah berkata:"Sesungguhnya Allah telah mewajibkan sholat melalui lisan Nabi kalian s.a.w. bahwa untuk orang bepergian dua rakaat, untuk orang yang menetap empat rakaat dan dalam keadaan ketakutan satu rakaat."(H.R. Muslim).
[2].Pendapat kedua mengatakan bahwa melakukan sholat dengan cara qashar saat bepergian hukumnya sunnah. Pendapat ini diikuti oleh mazhab Syafii dan Hanbali dan mayoritas ulama berbagai mazhab.

Kamis, 03 Januari 2013

Kisah Umar bin Khattab RA

Ini adalah sebuah penggalanisi buku Al Bidayah wan Nihayah Masa Khulafaur Rasyidin, yang akan menukilkan beberapa kisah, perkataan dan tindak-tanduk Umar bin Khaththab sebagai seorang khalifah atau Amirul Mukminin (pemimpin umat Islam) ketika itu yang penuh hikmah. Tulisan ini sangat menggugah perasan yang membaca, tentang bagaimana seorang pemimpin yang sangat takut pada Allah, hidup sangat bersahaja, berhati lembut terhadap umatnya,dan memegang teguh amanah kepemimpinannya dengan sangat luar biasa.
Umar pernah berkata, Tidak halal bagiku harta yang diberikan Allah kecuali dua pakaian. Satu untuk dikenakan di musim dingin dan satu lagi digunakan untuk musim panas. Adapun makanan untuk keluargaku sama saja dengan makanan orang-orang Quraisy pada umumnya, bukan standar yang paling kaya di antara mereka. Aku sendiri hanyalah salah seorang dari kaum muslimin.
Jika menugaskan para gubernurnya, Umar akan menulis perjanjian yang disaksikan oleh kaum Muhajirin. Umar mensyaratkan kepada mereka agar tidak menaiki kereta kuda, tidak memakan makanan yang enak-enak, tidak berpakaian yang halus, dan tidak menutup pintu rumahnya kepada rakyat yang membutuhkan bantuan. Jika mereka melanggar pesan ini maka akan mendapatkan hukuman.
Jika seseorang berbicara kepadanya menyampaikan berita, dan ia berbohong dalam sepatah atau dua patah kalimat, maka Umar akan segera menegurnya dan berkata, Tutup mulutmu, tutup mulutmu! Maka lelaki yang berbicara kepadanya berkata, Demi Allah sesungguhnya berita yang aku sampaikan kepadamu adalah benar kecuali apa yang engkau perintahkan aku untuk menutup mulut.
Muawiyah bin Abi Sufyan berkata,Adapun Abu Bakar, ia tidak sedikitpun menginginkan dunia dan dunia juga tidak datang menghampirinya. Sedangkan Umar, dunia datang menghampirinya namun dia tidak menginginkannya, adapun kita bergelimang dalam kenikmatan dunia.
Pernah Umar dicela dan dikatakan kepadanya, Alangkah baik jika engkau memakan makanan yang bergizi tentu akan membantu dirimu supaya lebih kuat membela kebenaran. Maka Umar berkata, Sesungguhnya aku telah ditinggalkan kedua sahabatku (yakni Rasulullah dan Abu Bakar) dalam keadaan tegar (tidak terpengaruh dengan dunia), maka jika aku tidak mengikuti ketegaran mereka, aku takut tidak akan dapat mengejar kedudukan mereka.
Beliau selalu memakai jubah yang terbuat dari kulit yang banyak tambalannya, sementara beliau adalah khalifah, berjalan mengelilingi pasar sambil membawa tongkat di atas pundaknya untuk memukul orang-orang yang melanggar peraturan. Jika beliau melewati biji ataupun lainnya yang bermanfaat, maka beliau akan mengambilnya dan melemparkannya ke halaman rumah orang.

Jumat, 21 Desember 2012

Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq (2)

Abu Bakar Ash Shiddiq lahir di Mekah dari keturunan Bani Tamim (Attamimi), sub-suku bangsa Quraisy ( Beberapa sejarawan Islam mencatat ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar, serta dipercaya sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi) pada 572 - wafat: 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H,beliau termasuk di antara mereka yang paling awal memeluk Islam. Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar menjadi kalifaf Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 M. Lahir dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah, ia adalah satu di antara empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang diberi petunjuk.

Abu Bakar Ash-Shidiq Nama lengkapnya adalah 'Abd Allah ibn 'Utsman bin Amir bi Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr al-Quraishi at-Tamimi'. Bertemu nasabnya dengan nabi SAW pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai. Dan ibu dari abu Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah bani Taim

Abu Bakar adalah ayah dari Aisyah, istri Rasulullah SAW. Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian diubah oleh Rasulullah SAW menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'). Rasulullah SAW memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya 'yang berkata benar') setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Miraj yang diceritakan oleh Rasulullah SAW kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama "Abu Bakar ash-Shiddiq"

Kisah ketika beliau anak-anak, masih muda dan sikap beliau tentang kisah isra dapat  dibaca disini

 Usaha mencegah gangguan Quraisy

 Kalaupun buku-buku sejarah dan mereka yang menulis biografi Abu Bakar tidak menyebutkan usahanya, apa yang disebutkan itu  sudah memadai juga. Tetapi sungguhpun begitu dalam hati saya  terbayang jelas segala perhatiannya itu, serta hubungannya yang  terus-menerus dengan Hamzah, dengan Umar, dengan Usman serta  dengan pemukapemuka Muslimin yang lain untuk melindungi  golongan lemah yang sudah masuk Islam dari gangguan Quraisy.  Bahkan saya membayangkan hubungannya dulu dengan kalangan luar  Islam, dengan mereka yang tetap berpegang pada kepercayaan mereka,  tetapi berpendapat bahwa Quraisy tidak berhak memusuhi orang yang  tidak sejalan dengan kepercayaan mereka dalam menyembah  berhala-berhala itu.
Dalam sejarah hidup Rasulullah kita sudah melihat, di antara mereka banyak juga yang membela kaum Muslimin dari gangguan  Quraisy itu. Juga kita melihat mereka yang telah bertindak  membatalkan piagam pemboikotan tatkala orang-orang Quraisy sepakat  hendak memboikot Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya serta  memblokade mereka selama tiga tahun terus-menerus di celah-celah  gunung di pinggiran kota Mekah, supaya tak dapat berhubungan dan  berbicara dengan orang di luar selain pada bulan-bulan suci. Saya  yakin, bahwa Abu Bakar, dalam menggerakkan  mereka yang bukan   pengikut-pengikut agama Rasulullah SAW, namun turut marah melihat tindakan-tindakan Quraisy terhadapnya itu, punya pengaruh besar, karena sifatnya yang lemah lembut, tutur katanya yang ramah serta pergaulannya yang menarik. Tindakan Abu  Bakar dalam melindungi kaum Muslimin ketika agama ini baru  tumbuh,  itu pula yang menyebabkan Rasulullah SAW lebih dekat kepadanya.  Inilah yang telah mempertalikan kedua orang itu dengan  tali persaudaraan dalam iman, sehingga Rasulullah SAW memilihnya  sebagai  teman dekatnya (khalilnya).
Setelah dengan izin Allah agama ini mendapat kemenangan  dengan kekuatan penduduk Yasrib (Medinah) sesudah kedua ikrar  Aqabah, Rasulullah SAW pun mengizinkan sahabat-sahabatnya hijrah ke  kota itu. Sama halnya dengan sebelum itu, ia mengizinkan  sahabat-sahabatnya hijrah ke Abisinia. Orang-orang Quraisy tidak tahu,  Rasulullah SAW ikut hijrah atau tetap tinggal di Mekah seperti tatkala  kaum Muslimin dulu hijrah ke Abisinia.
Tahukah Abu Bakar maksud Rasulullah SAW, yang oleh Quraisy tidak diketahui? Segala yang disebutkan mengenai ini hanyalah, bahwa  Abu Bakar meminta izin kepada Rasulullah SAW akan pergi hijrah, dan  dijawab: "Jangan tergesa-gesa, kalau-kalau Allah nanti memberikan  seorang teman kepadamu." Dan tidak lebih dari itu.

Bersiap-siap, kemudian hijrah

 Di sini dimulai lagi sebuah lembaran baru, lembaran iman yang begitu kuat kepada Allah dan kepada Rasulullah. Abu Bakar sudah  mengetahui benar, bahwa sejak kaum Muslimin hijrah ke Yasrib,  pihak  Quraisy memaksa mereka yang dapat dikembalikan ke Mekah  harus dikembalikan, dipaksa meninggalkan agama itu. Kemudian  mereka disiksa, dianiaya. Juga ia mengetahui, bahwa orang-orang  musyrik itu berkumpul di DarunNadwah, berkomplot hendak  membunuh Rasulullah SAW. Kalau ia menemani Rasulullah SAW dalam  hijrahnya itu lalu Quraisy bertindak membunuh Rasulullah SAW, tidak  bisa tidak Abu Bakar juga pasti dibunuhnya. Sungguhpun begitu,  ketika ia oleh Rasulullah SAW diminta menunda, ia pun tidak ragu.  Bahkan ia merasa sangat gembira, dan yakin benar ia bahwa kalau ia  hijrah bersama Rasulullah, Allah akan memberikan pahala dan ini  suatu kebanggaan yang tiada taranya. Kalau sampai ia mati terbunuh  bersama dia, itu adalah mati syahid yang akan mendapat surga.
Sejak itu Abu Bakar sudah menyiapkan dua ekor unta sambil  menunggu perkembangan lebih lanjut bersama kawannya itu. Sementara sore itu ia di rumah tiba-tiba datang Rasulullah SAW  seperti biasa tiap sore. Ia memberitahukan bahwa Allah telah  mengizinkan ia hijrah ke Yasrib. Abu Bakar menyampaikan keinginannya kepada Rasulullah sekiranya dapat menemaninya dalam hijrahnya itu; dan permintaannya itu pun dikabulkan.
Khawatir Rasulullah SAW akan melarikan diri sesudah kembali ke rumahnya, pemuda-pemuda Quraisy segera mengepungnya.  Rasulullah SAW membisikkan kepada Ali bin Abi Talib supaya ia  mengenakan mantel Hadramautnya yang hijau dan berbaring di tempat  tidurnya. Hal itu dilakukan oleh Ali. Lewat tengah malam, dengan  tidak setahu pemudapemuda Quraisy ia keluar pergi ke rumah Abu  Bakar. Ternyata Abu Bakar memang sedang jaga menunggunya. Kedua  orang itu kemudian keluar dari celah pintu belakang dan bertolak ke  arah selatan menuju Gua Saur. Di dalam gua itulah mereka bersembunyi. Pemuda-pemuda Quraisy itu segera bergegas ke setiap lembah  dan gunung mencari Rasulullah SAW untuk dibunuh. Sampai di Gua Saur salah seorang dari mereka naik ke atas gua  itu kalau-kalau dapat menemukan jejaknya. Saat itu Abu Bakar sudah  mandi keringat ketika terdengar suara mereka memanggil-manggil. Ia  menahan nafas, tidak bergerak dan hanya menyerahkan nasib kepada  Allah. Tetapi Rasulullah SAW masih tetap berzikir dan berdoa kepada  Allah. Abu Bakar makin merapatkan diri ke dekat kawannya itu, dan  Rasulullah SAW berbisik di telinganya:

Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq (1)


Abu Bakar Ash Shiddiq lahir di Mekah dari keturunan Bani Tamim (Attamimi), sub-suku bangsa Quraisy ( Beberapa sejarawan Islam mencatat ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar, serta dipercaya sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi) pada 572 - wafat: 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H,beliau termasuk di antara mereka yang paling awal memeluk Islam. Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar menjadi kalifaf Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 M. Lahir dengan nama Abdullah bin Abi Quhafah, ia adalah satu di antara empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang diberi petunjuk.

Abu Bakar Ash-Shidiq Nama lengkapnya adalah 'Abd Allah ibn 'Utsman bin Amir bi Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr al-Quraishi at-Tamimi'. Bertemu nasabnya dengan nabi SAW pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai. Dan ibu dari abu Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah bani Taim

Abu Bakar adalah ayah dari Aisyah, istri Rasulullah SAW. Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian diubah oleh Rasulullah SAW menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah'). Rasulullah SAW memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya 'yang berkata benar') setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Miraj yang diceritakan oleh Rasulullah SAW kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama "Abu Bakar ash-Shiddiq"

 Masa mudanya

Semasa kecil Abu Bakar hidup seperti umumnya anak-anak di  Mekah. Lepas masa anak-anak ke masa usia remaja ia bekerja  sebagai pedagang pakaian. Usahanya ini mendapat sukses. Dalam usia muda itu ia kawin dengan Qutailah bint Abdul Uzza. Dari perkawinan  ini lahir Abdullah dan Asma'. Asma' inilah yang kemudian dijuluki  Zatun-Nitaqain. Sesudah dengan Qutailah ia kawin lagi dengan  Umm  Rauman bint Amir bin Uwaimir. Dari perkawinan ini lahir pula  Abdur-Rahman dan Aisyah. Kemudian di Medinah ia kawin dengan  Habibah bint Kharijah, setelah itu dengan Asma' bint Umais yang  melahirkan Rasulullah SAW. Sementara itu usaha dagangnya berkembang  pesat dan dengan sendirinya ia memperoleh laba yang cukup besar.

Perawakan dan perangainya

Keberhasilannya dalam perdagangan itu mungkin saja disebabkan oleh pribadi dan wataknya. Berperawakan kurus, putih, dengan sepasang  bahu  yang  kecil dan  muka lancip dengan  mata yang cekung disertai dahi yang agak menonjol dan urat-urat tangan yang tampak jelas — begitulah dilukiskan oleh putrinya, Aisyah Ummulmukminin. Begitu damai perangainya, sangat lemah lembut dan sikapnya tenang sekali. Tak mudah ia terdorong oleh hawa nafsu. Dibawa oleh  sikapnya yang selalu tenang, pandangannya yang jernih serta pikiran  yang tajam, banyak kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan  masyarakat  yang tidak diikutinya. Aisyah menyebutkan bahwa ia tak pernah  minum minuman keras, di zaman jahiliah atau Islam, meskipun  penduduk Mekah umumnya sudah begitu hanyut ke dalam khamar dan mabuk-mabukan. Ia seorang ahli genealogi — ahli silsilah — bicaranya sedap dan pandai bergaul.
Seperti dilukiskan oleh Ibn Hisyam, penulis kitab Sirah:
"Abu Bakar adalah laki-laki yang akrab di kalangan  masyarakatnya, disukai karena ia serba mudah. Ia dari keluarga  Quraisy yang paling dekat dan paling banyak mengetahui seluk-beluk  kabilah itu, yang baik dan yang jahat. Ia seorang pedagang dengan  perangai yang sudah cukup terkenal. Karena suatu masalah,  pemuka-pemuka masyarakatnya sering datang menemuinya, mungkin  karena pengetahuannya, karena perdagangannya atau mungkin juga karena cara bergaulnya yang enak."

Kecintaannya pada Mekah dan hubungannya dengan Rasulullah SAW

Ia tinggal di Mekah, di kampung yang sama dengan Khadijah  bint Khuwailid, tempat saudagar-saudagar terkemuka yang membawa  perdagangan dalam perjalanan musim dingin dan musim panas ke  Syam1 dan ke Yaman. Karena bertempat tinggal di kampung itu,  itulah  yang membuat hubungannya dengan Rasulullah SAW begitu akrab  setelah Rasulullah SAW nikah dengan Khadijah dan kemudian tinggal  serumah. Hanya dua tahun beberapa bulan saja Abu Bakar lebih muda  dari Rasulullah SAW. Besar sekali kemungkinannya, usia yang tidak  berjauhan itu, persamaan bidang usaha serta ketenangan jiwa dan  perangainya, di samping ketidaksenangannya pada  kebiasaan-kebiasaan   Quraisy — dalam kepercayaan dan adat — mungkin sekali itulah semua yang berpengaruh dalam persahabatan  Rasulullah SAW dengan Abu Bakar. Beberapa sumber berbeda pendapat,  sampai berapa jauh eratnya persahabatan itu sebelum Rasulullah SAW  menjadi Rasul. Di antara mereka ada yang menyebutkan bahwa  persahabatan itu sudah begitu akrab sejak sebelum kerasulan, dan  bahwa keakraban itu pula yang membuat Abu Bakar cepat-cepat menerima Islam.
Ada pula yang lain menyebutkan, bahwa akrabnya hubungan itu baru kemudian dan bahwa keakraban pertama itu tidak lebih hanya karena bertetangga dan adanya kecenderungan yang sama. Mereka yang mendukung pendapat ini barangkali karena kecenderungan Rasulullah SAW yang suka menyendiri dan selama bertahun-tahun sebelum kerasulannya menjauhi orang banyak. Setelah Allah mengangkatnya sebagai Rasul teringat ia pada Abu Bakar dan kecerdasan otaknya. Lalu diajaknya ia bicara dan diajaknya menganut ajaran tauhid. Tanpa ragu Abu Bakar pun menerima ajakan itu. Sejak itu terjadilah hubungan yang lebih akrab antara kedua orang itu. Kemudian keimanan Abu Bakar makin mendalam dan kepercayaannya kepada Rasulullah SAW dan risalahnya pun bertambah kuat. Seperti dikatakan oleh Aisyah: "Yang kuketahui  kedua orangtuaku sudah memeluk agama ini, dan setiap kali lewat di  depan rumah kami, Rasulullah selalu singgah ke tempat kami, pagi  atau  sore."

Jumat, 14 Desember 2012

Akhir Sedih Khalid bin Walid

Khalid bin Walid, jenderal perang Islam berjuluk "Saifullah Al-Maslul (pedang Allah yang terhunus)". Reputasinya sebagai seorang jenderal ditakuti dan dikagumi lawan-lawannya. Namun selain kehebatannya sebagai seorang panglima perang, kaum muslimin juga banyak membicarakan hubungannya yang buruk dengan Umar bin Khattab. Krisis kepercayaan dengan sang sepupu berakhir dengan diberhentikannya Khalid Bin Walid dari kemiliteran, hal yang membuat hatinya menjadi galau.
"Aku berjuang dalam banyak pertempuran mencari mati syahid, tidak ada tempat di tubuhku melainkan memiliki bekas luka tusuk tombak, pedang atau belati, namun inilah aku, mati di tempat tidur seperti unta tua mati. Semoga mata para pengecut tidak pernah tidur." - Khalid bin Walid menjelang kematiannya.


Inilah Biografi Khalid Bin Walid - Pedang Allah


Khalid bin Walid (592–642), lahir sekitar tahun 592, ayahnya bernama Walid bin al-Mughira seorang kepala suku dari banu Makhzum (bangsa Quraisy). Di saat itu banu Makhzum bertanggung jawab terhadap masalah perang, mengurus persenjataan dan tenaga tempur. Sesaat setelah dilahirkan, Khalid dikirim ke suku Badui di gurun di mana udaranya masih bersih, segar dan belum terpolusi. di usia lima atau 6 tahun, ia kembali ke Mekah. Di masa kanak-kanak tersebut Khalid juga pernah terserang cacar ringan yang mengakibatkan timbulnya bekas cacar (bopeng) dipipi kirinya.
Khalid bin Walid dan Umar bin Khattab adalah saudara sepupu dan memiliki kemiripan wajah. Keduanya sangat tinggi, Khalid memiliki tubuh yang kuat, bahu yang lebar, badan yang kekar juga berjenggot penuh dan tebal di wajahnya.
Khalid seorang juara gulat, suatu ketika ia pernah adu gulat dengan Umar bin Khattab. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Ini mungkin awal dari perseteruan dua saudara sepupu tersebut. Khalid juga jago berkuda, dimasa kecil ia juga berlatih menggunakan senjata seperti panah, tombak, dan pedang. Tombak adalah senjata favoritnya.

Di Era Nabi Muhammad saw (610–632)


Pertempuran Melawan Kaum Muslimin

Tidak banyak diketahui kisah Khalid bin Walid di masa-masa awal nabi Muhammad saw. Ayah Khalid dikenal memusuhi Islam. Setelah periode hijrah dari Mekah ke Madinah, maka pertempuran antara kaum muslimin dgn kaum kafir quraisy pun dimulai. Khalid bin Walid tidak turut serta dalam perang Badar, peperangan pertama antara kaum muslimin dengan kafir quraisy. Dalam perang ini saudara Khalid, Walid bin Walid tertangkap dan ditawan. Kemudian Khalid bersama sang kakak pergi ke Madinah untuk menembus Walid. Namun segera setelah ditembus, dalam perjalanan ke Mekah, Walid melarikan diri, kembali ke Madinah dan masuk Islam.
Khalid menyerang balik pasukan muslimin
Kepemimpinan Khalid berperan besar untuk memastikan kemenangan kaum kafir quraisy dalam perang Uhud (625 M). Tahun 627 M terjadi Pertempuran Khandaq, ini merupakan peperangan terakhir Khalid dengan kaum Muslimin.

Khalid bin Walid "Pedang Allah yang terhunus"

Khalid bin Walid adalah seorang panglima perang yang termasyhur dan ditakuti di medan tempur. Ia mendapat julukan "Pedang Allah yang Terhunus". Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang karirnya.

Khalid termasuk di antara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi Khalid, adalah istri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Awalnya Khalid bin Walid adalah panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Pada saat Perang Uhud, Khalid yang melihat celah kelemahan pasukan Muslimin yang menjadi lemah setelah bernafsu mengambil rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud, langsung menghajar pasukan Muslim pada saat itu. Namun justru setelah perang itulah Khalid masuk Islam.

Ayah Khalid, Walid bin Mughirah dari Bani Makhzum adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa di antara orang-orang Quraisy. Dia orang yang kaya raya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka’bah. Pada masa ibadah haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.

Suku Bani Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, merekalah yang mengurus gudang senjata dan tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit. Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang lebih dibanggakan seperti Bani Makhzum. Ketika diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam di lembah Abu Thalib, orang-orang Bani Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu. Ketika Khalid bin Walid masuk Islam, Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai kemampuan berperang yang dapat membela panji-panji Islam dan meninggikan kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan Khalid diangkat menjadi panglima perang dan menunjukkan hasil kemenangan atas segala upaya jihadnya.

Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Khalid bin Walid ditunjuk menjadi panglima pasukan Islam sebanyak 46.000, menghadapi tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Dia sama sekali tidak gentar menghadapinya, dia hanya khawatir tidak bisa mengendalikan hatinya karena pengangkatannya dalam peperangan yang dikenal dengan Perang Yarmuk itu.

Kamis, 13 Desember 2012

Tata cara Shalat Tahajud

Sholat tahajud  merupakan sholat sunah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rosullah SAW sepanjang hidupnya karena keutamaan yang terdpat dalam sholat tahajud ini sangat besar bagi mereka yang mau mengerjakan. Jumlah shalatnya paling sedikit dua raka'at, sedang banyaknya tidak ada batasan. 

Namun, yang biasa dilakukan Nabi adalah 11 (sebelas) atau 13 (tigabelas) raka'at.Sedangkan dalam pelaksanaan nya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sholat sunnat lain hanya yang membedakan adalah niat sedangkan bacaan nya sama saja jika kita melaksanakan tahajud maka kita akan masuk orang-orang yang bertaqwa dan sangat dicintai oleh Allah SWT.

Salah satu syarat salat tahajjud adalah harus dilakukan setelah bangun tidur Dan yang paling utama dilakukan pada waktu sepertiga malam yang terakhir yaitu antara jam 01.00 sampai menjelang subuh.Ada banyak keutamaan yang dapat diperoleh bagi mereka yang mengerjakannya diantaranya berdasarkan hadits nabi, dimana orang yang mengerjakan tahajud karena Allah dan berharap akan ridho’nya maka orang tersebut akan mendapatkan 5 kemulyaan untuk urusan dunia dan 4 kemulyaan untuk akhirat.

Beda Shalat Malam dan Shalat Tahajud

Salat malam adalah salat yang dilakukan pada waktu malam setelah salat isya'. Baik dilakukan sebelum atau setelah tidur. Sedangkan salat tahajjud adalah salat malam yang dilakukan setelah bangun dari tidur. Dengan kata lain, salat tahajjud pasti solat malam. Sedang salat malam belum tentu salat tahajud.

Keutamaan Shalat Tahajud

1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
5. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
6. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
7. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
8. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
9. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

Bacaan Niat Shalat Tahajud

أُصَلِّي سُنّةَ التَهَجُدِ رَكْعَتَيْنِ ِللَهِ تَعَاليَ

"Ushallii sunnatat-tahajjudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa".
Artinya: “Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat karena Allah” (Di ucapkan dalam hati saat takbir)

Tata cara Shalat Tahajud

Tata cara shalat tahajjud tidak berbeda dengan shalat sunnah lain sebagai berikut: